Filed under: Uncategorized

APENDISITIS

Assalamu’alaikum.

Perkenalkan nama saya Selvy Pratiwi. Saat ini saya akan berbagi informasi kesehatan tentang salah satu penyakit yang sering terjadi pada seusia saya dan bahkan saya pun pernah mengalaminya. Seperti judul yang saya cantumkan bahwa nama penyakit tersebut adalah APENDISITIS.

Penjelasan tentang apendisitis ini saya rangkum dari 3 web kesehatan terpercaya yaitu dari www.alodokter.com, www.hellosehat.com, dan www.ususbuntu.klikwalatra.com.

Baiklah langsung ke bahasan saja. Semoga bermanfaat.

1. Pengertian APENDISITIS

APENDISITIS adalah suatu peradangan atau pembengkakkan yang sering terjadi pada appendiks (usus buntu). Usus buntu adalah organ berbentuk kantong kecil dan tipis berukuran 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar.

Pengangkatannya pun tidak memengaruhi kondisi kesehatan. Namun penyakit usus buntu atau apendisitis berpotensi memicu komplikasi yang serius. Apendisitis merupakan penyakit umum yang bisa menyerang siapa saja. Tetapi, kalangan muda yang berusia 10 sampai 30 tahun adalah kelompok orang yang paling sering mengalami kondisi ini. Jika tidak ditangani dengan baik, usus buntu yang meradang dapat pecah. Bakteri dari usus kemudian dapat mencemari organ-organ di rongga perut dan mengakibatkan infeksi yang mengancam nyawa.

2. Etiologi (penyebab) APENDISITIS

Penyebab penyakit ini belum diketahui dengan pasti, sehingga pencegahannya juga belum diketahui. Meski demikian, sebagian besar apendisitis diperkirakan terjadi akibat tersumbatnya ‘pintu masuk’ menuju usus buntu oleh Tinja dan Kelenjar getah bening yang membengkak dalam dinding usus (Pembengkakan ini biasanya berkembang setelah terjadi infeksi saluran pernapasan atas).

Penyumbatan tersebut akan menyebabkan terjadinya inflamasi dan pembengkakan. Tekanan akibat pembengkakan akan memicu pecahnya usus buntu.

Berikut ini adalah pathway apendisitis.

 

Dari pathway diatas menjelaskan bahwa APENDISITIS biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa.

Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis supuratif akut. Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding appendiks yang diikutiganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut appendikssitis perforasi. Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis.

Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.

Jadi itulah penjelasannya. Bisa dimengerti ?

Namun banyak yang berpendapat bahwa salah satu faktor penyebab munculnya penyakit usus buntu itu adalah makanan utamanya makanan pedas dan berbiji. Apa itu benar ?

Faktanya makanan bukanlah penyebab langsung dari penyakit usus buntu melaikan sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan resiko terkena penyakit usus buntu. Hal tersebut karena beberapa makanan bisa menimbulkan potensi terganggunya kelancaran saluran cerna sehingga menyebabkan BAB tidak lancar, feses keras hingga bisa meningkatkan resiko terjadinya usus buntu bahkan kanker usus. Berikut ini adalah beberapa jenis makanan penyebab usus buntu secara tidak langsung karena bisa menyebabkan konstipasi atau sembelit, diantanya :

  • Pisang Muda. Pisang dikenal sangat baik untuk melancarkan pencernaan kok bisa menyebabkan usus buntu ? hal tersebut benar adanya jika pisang yang dikonsumsi sudah matang benar. Adapun jika pisang yang dikonsumsi masih muda atau belum matang benar maka bisa menyebabkan konstipasi dan memicu radang usus buntu. Hal tersebut karena pisang yang masih mudah mengandung zat tepung yang susah dicerna serta mengandung serat (pectin) yang dapat menyerap air dalam saluran cerna sehingga akan menyebabkan sembelit.
  • Makanan Berkafein. Jenis makanan berkafein juga bisa menyebabkan penyakit usus buntu, hal tersebut karena dalam kondisi tertentu yakni kondisi dehidrasi (tubuh kekurangan cairan) kafein bisa memicu sembelit karena feses yang mengeras. Beberapa contoh makanan yang mengandung kafein adalah kopi, teh, cola dan cokelat.
  • Gandum Hitam dan Barley. Keduanya mengandung gluten yakni protein yang bisa menyebabkan radang usus buntu utamanya bagi orang yang menderita penyakit celiac disarankan untuk tidak mengkonsumsi gandum.
  • Kesemek. Buah yang satu ini ternyata bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit usus buntu utamanya jika buah kesemek yang dikonsumsi belum matang sehingga memiliki rasa asam karena buah kesemek yang masih asam bisa memperlambat pergerakan makanan pada usus sehingga menyebabkan sembelit.
  • Daging Merah. Seringnya mengkonsumsi daging merah bisa menyebabkan usus buntu. Hal tersebut karena daging merah mengandung lemak dan zat besi tinggi sehingga akan lebih lama dicerna oleh usus. Proses yang lama ini umumnya akan menyebabkan sembelit diawal dan apabila dibiarkan bisa meningkatkan resiko radang usus buntu.
  • Produk Olahan Susu. Pada dasarnya olahan susu baik untuk kesehatan, namun jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak bisa meningkatkan resiko radang usus buntu karena jenis makanan tersebut mengandung banyak latosa yang dapat menyebabkan pengingkatan gas dan sembelit. Beberapa contoh olah susu adalah : keju, yogurt dan susu kemasan.
  • Burger Dan Kentang Goreng. Kedua makanan ini termasuk makanan cepat saji yang kandungan lemaknya tingginya dimana lemak tersebut bisa menyebabkan proses pencernaan menjadi lambat jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, ujung-ujungnya bisa menyebabkan konstipasi dan peradangan usus buntu. Maka dari itu sebaiknya hindari dan kurangi porsi makanan siap saji dengan kandungan lemak tinggi dan perbanyaklah konsumsi makanan yang bernutrisi seimbang utamanya yang mengandung banyak serat guna menjaga dan memelihara kesehatan pencernaan anda.

                  Itulah beberapa makanan penyebab usus buntu secara tidak langsung, mengingat sejauh ini tidak ada makanan yang jika dikonsumsi terus menerus bisa menyebabkan penyakit usus buntu. Namun jika ingin terhindar dari penyakit usus buntu maka alangkah baiknya mulai saat ini mampu mengontrol dan mengurangi konsumsi beberapa makanan tersebut.

3. Tanda dan Gejala APENDISITIS

Gejala utama pada penyakit usus buntu adalah sakit perut. Meski demikian, tidak semua jenis sakit perut akan berujung pada apendisitis.

Sakit perut yang mengindikasikan penyakit ini biasanya berawal di perut bagian tengah. Pada awalnya, rasa sakit itu akan datang dan pergi. Beberapa jam kemudian, rasa sakit akan berpindah ke perut kanan bawah (tempat usus buntu berada) sebelum akhirnya bertambah parah dan terus menerus terasa sakit.

Rasa sakit juga akan bertambah parah ketika terjadi penekanan pada bagian perut tersebut. Begitu juga pada saat Anda batuk atau berjalan. Beberapa gejala lain yang dapat menyertai sakit perut itu antara lain:

  • Kehilangan nafsu makan.
  • Perut kembung.
  • Tidak bisa buang gas.
  • Mualdan muntah.
  • Konstipasi atau diare.
  • Demam.

Penyakit usus buntu juga sering dikira sebagai penyakit lain, seperti keracunan makanan, maag, sindrom iritasi usus yang parah, konstipasi biasa, dan infeksi saluran kemih. Wanita muda juga sering mengira gejala penyakit ini sehubungan dengan kandungan, seperti kehamilan ektopik atau nyeri menstruasi.

                Namun, alangkah baiknya konsultasikan kepada dokter apabila sakit perut yang dirasakan perlahan-lahan makin parah. Segera panggil ambulans jika sakit perut bertambah parah secara mendadak dan menyebar ke seluruh perut. Ini mengindikasikan kemungkinan pecahnya usus buntu yang dapat memicu peritonitis (infeksi serius pada lapisan perut bagian dalam).

4. Proses Diagnosis APENDISITIS

Gejala-gejala yang identik dengan peradangan usus buntu terkadang hanya ditemukan pada sebagian penderita. Gejala tersebut juga cenderung mirip dengan penyakit lain sehingga sulit didiagnosis.

Letak usus buntu pada tiap orang berbeda-beda. Hal ini juga dapat mempersulit proses diagnosis. Ada yang terletak di bagian lain, misalnya pada rongga panggul, di belakang usus besar atau di bawah organ hati.

Dokter biasanya akan menanyakan gejala-gejala Anda sebelum mengadakan pemeriksaan lebih lanjut yang berupa :

  • Pemeriksaan fisik, untuk mengonfirmasi rasa sakit pada perut. Bagian di sekitar usus buntu (perut kanan bawah) akan ditekan secara perlahan-lahan. Ketika tekanan dilepaskan oleh dokter, sakit perut akibat apendisitis umumnya akan bertambah parah.
  • Tes darah, guna memeriksa jumlah sel darah putih yang menandakan adanya infeksi.
  • Tes urine, untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit lain, misalnya infeksi saluran kemih atau batu ginjal.
  • CT scanatau USG, agar kondisi usus buntu bisa diperiksa. Misalnya, membengkak atau tidak.

Pemeriksaan organ intim dan tes kehamilan bagi wanita yang belum menopause. Prosedur ini berfungsi menghapus kemungkinan adanya penyakit yang berhubungan dengan organ kewanitaan.

 5. Langkah Pengobatan APENDISITIS

Langkah pengobatan utama untuk penyakit usus buntu adalah melalui prosedur operasi pengangkatan usus buntu atau yang dikenal dengan istilah apendektomi. Usus buntu tidak memiliki fungsi yang penting bagi tubuh manusia dan pengangkatannya tidak akan menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang.

Menjalani operasi jauh lebih aman daripada menunggu hasil konfirmasi adanya peradangan usus buntu. Makin lama menunggu, risiko pecahnya usus buntu akan makin meningkat. Sama seperti semua operasi, apendektomi tetap memiliki risiko seperti munculnya infeksi pada luka operasi serta pendarahan. Tetapi, operasi ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan jarang menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Terdapat dua jenis apendektomi yang dapat dilakukan, yaitu operasi laparoskopi atau ‘lubang kunci’ dan bedah sayatan terbuka. Keduanya dilakukan dengan pembiusan total.

Operasi pengangkatan usus buntu melalui prosedur ‘lubang kunci’ (laparoskopi) lebih banyak dipilih, terutama bagi pasien manula atau yang mengalami obesitas. Laparoskopi hanya membutuhkan beberapa sayatan kecil pada perut untuk mengangkat usus buntu sehingga masa pemulihan pasien akan jauh lebih cepat. Pasien biasanya akan diizinkan pulang setelah beberapa hari atau bahkan 24 jam.

Namun, tidak semua penderita penyakit usus buntu dapat menjalani operasi laparoskopi, misalnya karena usus buntu sudah pecah atau infeksinya yang sudah menyebar. Apabila ini terjadi, penderita membutuhkan prosedur bedah sayatan terbuka untuk mengangkat usus buntu sekaligus membersihkan rongga perut.

Proses operasi ini biasanya membutuhkan masa pemulihan selama satu minggu sebelum pasien diizinkan pulang. Pasien biasanya dapat kembali beraktivitas secara normal dalam 2 hingga 3 minggu. Tapi aktivitas berat disarankan untuk dihindari selama 1 sampai 2 bulan setelah operasi.

Pemantauan masa pemulihan juga sangat penting. Segera hubungi dokter atau rumah sakit tempat Anda dioperasi jika Anda mengalami gejala-gejala infeksi seperti muntah-muntah, rasa nyeri dan pembengkakan yang semakin parah, demam, luka operasi terasa panas, atau ada cairan yang keluar dari luka operasi.

Penyakit usus buntu juga bisa menyebabkan gumpalan atau benjolan pada usus buntu yang terdiri dari jaringan usus buntu dan lemak. Benjolan tersebut terbentuk karena upaya alami tubuh untuk mengatasi radang usus buntu ini. Dokter biasanya tidak menganjurkan Anda untuk segera menjalani operasi. Anda akan diberikan antibiotik selama beberapa minggu agar infeksi gumpalan usus buntu berkurang sebelum dioperasi.

6. Komplikasi Pecahnya Usus Buntu

Penyakit usus buntu (apendisitis) yang tidak diobati berisiko untuk pecah dan dapat berakibat fatal. Segera hubungi rumah sakit jika sakit perut Anda mendadak makin parah dan menyebar ke seluruh perut. Ini mengindikasikan kemungkinan pecahnya usus buntu yang dapat memicu sejumlah komplikasi seperti :

  • Peritonitis. Ini adalah peradangan peritoneum, yaitu jaringan tipis yang melapisi dinding perut bagian dalam dan organ-organ di dalam rongga perut. Peradangan ini disebabkan oleh bakteri dari dalam usus buntu yang pecah. Gejalanya meliputi sakit perut yang parah dan terus-menerus, muntah, detak jantung cepat, demam, daerah perut yang membengkak, serta napas pendek dan terengah-engah. Komplikasi ini biasanya ditangani dengan pemberian antibiotik dan operasi pengangkatan usus buntu
  • Abses, yaitu kantong kumpulan nanah yang terasa sakit. Komplikasi ini muncul sebagai usaha alami tubuh untuk mengatasi infeksi akibat usus buntu yang pecah. Penanganannya dilakukan dengan penyedotan nanah dari abses atau terkadang dengan antibiotik. Jika ditemukan dalam operasi, abses dan bagian di sekitarnya akan dibersihkan dengan hati-hati dan diberi antibiotik.

 

             Demikian penjelasan yang saya rangkum tentang apendisitis (peradangan usus buntu). Semoga informasi yang saya rangkum ini bermanfaat dan bisa menjawab rasa ingin tahu sekaligus menambah wawasan para pembaca.

Baiklah, terimakasih sudah menyimak.

Wassalamu’alaikum.